Ketatnya Persaingan Jasa Angkutan Buah Kelapa Sawit di Kuansing,  Truk Banyak dan Banting Harga

Ketatnya Persaingan Jasa Angkutan Buah Kelapa Sawit di Kuansing,  Truk Banyak dan Banting Harga
Ilusrrasi. Net

TELUK.KUANTAN - Sudah jamak dijalanan Kuansing menemukan truk-truk pengangkut buah kelapa sawit lalu lalang setiap hari.

Dibalik deru bolak balik truknpengangkut emas hijau itu, terselip persaingan ketat para pengusaha angkutan yang bergerak dalam sektor ini. Pada intinya semua sektor usaha demikian.

Jika tak jeli mencari peluang dan efisiensi operasional alamat usaha tumbang modal pun lesap. Hutang pun menanti bagi pengusaha yang meminjam kredit bank.

Itu terungkap dari penuturan Hendi salah satu pemilik angkutan buah kelapa sawit. 

Menurutnya jika pemlik truk menerima jasa angkutan buah dari areal Kecamatan Kuantan Tengah dan Sentajo Raya untuk setiap ton mendapat Rp 200 ribu.

Jika mengangkut 8 ton maka upah yang diterima Rp.1.6 juta. 

Sementara pengeluarannya berupa upah angkut buah kelapa sawit dari kebun ke truk menggunakan mobil kecil  Rp 50 ribu per ton. Ditambah uang minyak Rp 50 ribu per ton.

" Kadang truk tidak masuk bisa masuk ke kebin. Perlu mobil kecil untuk melansir,"katanya.

Untuk dua pengeluaran ini sudah habis Rp 800 ribu dan tinggal Rp 800 ribu lagi. Jika ditambah dengan uang makan pekerja yang mengangkut buah Rp 100 ribu maka sudah habis Rp.900 ribu.

" Tinggal Rp 700 ribu,"katanya.

Sementara untuk uang jalan sopir truk ke pabrik habis Rp 200 ribu,  BBM Rp.200 ribu dan iuran serikat dipabrik Rp 50 ribu.

" Maka habis Rp 450 ribu. Maka untung pemilik angkutan tinggal Rp 250 ribu,"ujarnya.

Jika mendapat jasa angkutan dua kali dalam sehari maka keuntungan Rp.500 ribu. Akan tetapi untuk saat ini sulit, karena begitu banyak truk angkutan yang bersaing.

Walau dapat untung lanjutnya mesti disisihkan untuk pemeliharan rutin dan kerusakan. Kalau ada pinjaman bank disisihkan untuk angsuran kredit.

Menurutnya pemilik angkutan yang membayar kredit bank diyakininya sedikit susah mencari keuntungan lumayan. Kecuali mereka punya kebun kelapa sawit sendiri sebagai basis utama usaha angkutan mereka.

" Jadi sewa angkutan bagi mereka merupakan usaha sampingan,"katanya.

Kemenangan mereka, setelah kredit lunas mereka mendapat asset berupa kenderaan.

"  Setelah kredit lunas barulah mereka dapat menikmati hasil lumayan,"katanya.

Akan tetapi jika pemilik truk langsung menjadi sopir hasilnya juga lumayan karena terjadi penghematan operasional.

Getirnya persaingan  pengangkutan buah kelapa sawit ujanya juga mendorong sejumlah pemilik kenderaan banting harga.

" Ada yang menerima Rp 180 ribu per ton. Sedangkan Rp 200 ribu per ton untungnya kecil apalagi kalau dibanting lagi,"pungkasnya. ( ms )

  

Berita Lainnya

Index